Monday, September 17, 2007

Kehilangan Itu....

Hari Selasa, 11 September 2007 jam 8.18 pagi di depan sekolah Salwa, saya menerima sebuah sms yang sangat singkat isinya. Risna meninggal...
Cuma itu isinya, tapi saya (waktu itu) kok (merasa) tidak bisa paham apa maksudnya. Hp saya tutup trus beberapa saat kemudian saya buka dan baca lagi sampai beberapa kali berbuat demikian. Lalu kemudian setelah bisa kembali menguasai hati, saya baru nyari berita kemana-mana. Ternyata itu betul....Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...

Tulisan ini sama sekali bukan bermaksud meratapi atau membuka luka karena kehilangan Risna. Ini adalah sepenggal kenangan yang saya miliki bersama Risna. Kami memang bersepupu, waktu kecil mungkin tidak begitu akrab, hanya merasa sebatas sepupu. Kedekatan yang lebih intens adalah saat saya mulai kuliah, dia mulai rajin ke rumah. Apalagi saat Risna kuliah di kedokteran. Dia hampir tiap 2 hari muncul di kamar saya dengan senyum lebarnya dan tawanya yang khas (dan sampai sekarang rasanya masih terngiang...). "Tolong ki terjemahkan bahan laporanku kodong..." Itu yang selalu dikatakannya. Saya pun membantunya, kadang kalo terjemahan itu cepat selesai, dia minta tolong diketikkan segala. Waktu itu saya cuma bilang "Kamu ini tidak tau diri amat sih, minta bantu tidak tanggung-tanggung!!." Seperti biasa, dia terkekeh-kekeh. Kadang saat pulang dari kampus sore hari, saya sudah mendapati dia ada di kamar saya, depan komputer saya dan...memakai T-Shirt dan celana pendek saya!!!! Begitu terus kejadiannya sampai saat saya menikah hingga mengandung 6 bulan, saya pindah mengikuti suami ke Malang, barulah dia berhenti ke rumah.

Pernah suatu kali, saya tanya "Saya ini tidak kamu gaji apa-apa? Jadi keuntungan saya menerjemahkan ini apa???." Katanya, "Besok, kalo saya jadi dokter, kamu bisa gratis berobat seumur hidup sama saya." Saya tau dia bercanda dan dia tau saya juga senang membantunya. Tidak saya sangka...dia pergi begitu cepat, bahkan dia tidak menghubungi saya waktu wisuda (entah lupa atau mungkin dia sudah merasa saya tak mungkin lagi berobat gratis padanya...)

Banyak kenangan tentang Risna, karena selama beberapa tahun dia nginap di rumah saya, makan di rumah saya, mandi sore di rumah saya, tidur di sisi saya....Saya ingat, dia sukaaaa sekali nonton film India, kebiasaannya yang selalu saya ejek... Dia senang sekali minum teh manis hangat... Dia mengajari saya menyelesaikan game Minesweeper di komputer sampai jam 2 malam. Dia juga yang mengajari saya cara memakai jilbab saat pertama kali saya mengenakan pakaian muslim, dan memberikan saya salah satu ciput/kerudung dalam yang dia bikin sendiri. Bagaimana mungkin saya lupa????

Suatu malam, beberapa minggu sebelum saya menikah, dia menginap di rumah bersama teman saya, Dian, kami mengobrol ngalor-ngidul sebelum tidur. Sampai suatu waktu kami membicarakan tentang nama-nama yang indah. Waktu itu saya bilang, "Kenapa ya, saya itu tidak suka dengan nama yang ada akhiran -wati di belakangnya atau -anti di belakangnya. Rasanya kurang kreatif, gitu loh ???" Kami mulai membahas itu. Bergantian saya,Dian dan Ita mengemukakan pendapat. Tak lama kemudian saya menyadari kalo Risna tidak mengeluarkan pendapat apa-apa. "Menurutmu bagaimana??", saya tanya Risna. Dia tidak ngomong,malah bangun duduk dan mengambil guling keudian memukulkan ke kepala saya. "Kalian ini tidak berperasaan sekali!! Namaku Risnawati..!!!!"...Oalah....ternyata itu yang membuatnya diam.

Atau dia datang ke rumah dan membawa novel. Dia tau, membaca adalah kegiatan yang paling saya senangi. Dia bisa membawa novel 2 -3 biji. Saya disuruhnya menghabiskan semua bacaan itu dalam satu malam tapi...setelah menerjemahkan tugasnya. Astaga... Kalo bisa saya selesaikan, Alhamdulillah. Tapi tak jarang novel itu saya sembunyikan di tas dan saya bawa ke kampus saya. Kalo begitu kejadiannya, sore hari dia akan muncul di rumah dan memarahi saya karena membuatnya kena denda di tempat rental novel.

Sejak pindah, kami cuma berhubungan lewat sms kalo dia lagi jaga malam. Beberapa kali dia curhat tentang ini dan itu, bahkan minta dicarikan jodoh segala.Saya pernah menyodorkan satu cowok, anak pemilik rumah yang saya kontrak. Tapi ketika saya beritahu cowok itu kelahiran 1984, dia cuma bilang "Saya ini bukan kambing, Niar...Tidak suka makan daun muda!!" Pernah sekali saya dia mengutarakan kriteria cowok yang diinginkannya. Salah satunya adalah berkarakter ngemong (kebapakan)... Dari sekian nama yang saya sebut, tidak ada yang nyantol di hatinya. Akhirnya saya bilang "Saya tau, ada seseorang yang cocok untuk itu. Sangat pas!" Dia bertanya "Siapa??"...Saya bilang...."Salle...dia bukan hanya kebapakan, tapi juga kedatokan..." Dia menelpon saya siang-siang cuma untuk bilang "Kamu ini sepupu dan keponakan yang kurang ajar..!"

Atau suatu kali dia saya tanya, "Apa yang kamu rasakan kalo orang membandingkan kamu dengan Rika?" Kami memang bisa membicarakan apa saja. Waktu itu dia bilang, "Memang Rika cantik. Saya mungkin biasa-biasa saja, tapi suatu saat saya ingin jadi cantik, mungkin ketika meninggal nanti...Panggil saja saya Risna Jamilah (cantik dlm bhs Arab)." Pembicaraan ini saya ingat ketika Didin, adik saya mengirim sms memberitahukan prosesi pemakaman Risna dan salah satu sms-nya mengabarkan Risna kelihatan tenang, seperti tidur, dan kelihatan cantik karena tersenyum....

Sekarang?? Tidak ada lagi Risna. Allah sangat menyayanginya. Dia dipanggil 4 hari setelah resmi menjadi dokter. Pasti Allah begitu menyayanginya sampai memanggilnya secepat itu, untuk meringankan beban sakitnya, mungkin. Karena Risna yang saya kenal, adalah seorang adik yang sangat menghormati, polos, tidak menyimpan prasangka, begitu sederhana, tampil apa adanya... Semoga kepolosan dan kesederhanaan itu meninggalkan bekas manis dalam hati kita. Mungkin memang dia sudah tidak bersama kita secara fisik, namun akan ada kenangan manis yang selalu menghubungkan hati kita dengannya, dimana pun dia berada....

Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya, memberikannya tempat beristirahat yang tenang... Dan untuk semua yang ditinggalkannya, semoga kita bisa tabah menerima ini. Memang ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi selalu menimbulkan kesedihan. Kesedihan kerap kali menimbulkan rasa kesendirian, membuat kita merasa kehilangan lebih banyak.... Mudah-mudahan kehilangan ini bisa cepat terobati, bukan dengan melupakan, tapi dengan mengikhlaskan dan meyakini bahwa suatu hari kita semua akan bertemu lagi di tempat yang lain...

Wallahualam bisshawab...

No comments: